qui m'aime me suive :)

Sabtu, 26 Mei 2012

Temu Eropa 2012


Jika diceritakan dari awal kenapa aku bisa sampai berpartisipasi di acara Temu Eropa 2012 di Rotterdam, Belanda ini bisa sangat panjang. Singkatnya, aku adalah salah satu mahasiswa program master di Perancis yang sedang menjalani magang di Kedubes Indonesia di Paris. Satu pagi, seingatku itu hari kamis, salah satu temanku yang juga magang di KBRI ngasitau kalau anak-anak PPI(Perhimpunan Pelajar Indonesia) akan ikut berpartisipasi di acara Temu Eropa yang tahun ini diadakan di Rotterdam, Belanda. Acaranya tersebut yang berlangsung selama dua hari diadakan untuk mengundang perwakilan PPI dari Eropa untuk ikut dalam kompetisi olahraga demi menjalin silaturahmi antara mahasiswa Indonesia di Eropa. Acara ini dicanangkan oleh PPI Belanda dan berlangsung tiap tahunnya di kota yang berbeda di Belanda. 
Beberapa bulan sebelumnya aku sudah sempat mendengar tentang acara ini, tapi karena aku pikir tiket untuk menuju kesananya akan mahal, aku mengurungkan niatku. Sampai pada ketika teman magangku itu berkata : "Kita naik Megabus, PP Paris-Amsterdam 26 euros". Aku langsung tanpa pikir panjang mengeluarkan dompet dan CB(carte bancaire a.k.a. kartu debet) dan berkata "Ikuuuut!". Megabus yang akan kami gunakan untuk menuju dan pulang dari Rotterdam itu merupakan perusahaan bis Inggris dan jadwal keberangkatan yang ditawarkan sebagian besar pada malam hari sehingga kita dapat menghemat waktu dan uang untuk hotel satu malam(maklum lah ya.. mahasiswa, dan semua orang Perancis tau bahwa setiap orang yang bilang kalau dia mahasiswa pasti sudah pasti miskin. *true story*). 
Bref(singkatnya), kami memesan bis Megabus dengan keberangkatan Paris-Amsterdam pada hari Jumat malam tanggal 4 Mei. Terminal bisnya itu letaknya di Porte Maillot Coach Park, seberangnya Hotel Concord Lafayette yang segede gaban. Kenapa? karena untuk menemukan terminal itu, kita sampai harus mengelilingi hotel tersebut yang sebenarnya satu-satunya penghalang buat ngeliat itu terminal. Bis kami berangkat jam 11 dan RDV di metro Porte Maillot line 1 jam 10 supaya tidak mepet-mepet karena kami belum tau dimana terminalnya. (itu juga masih ada yang telat). 
Akhirnya kami ketemu terminal dan bisnya mulai jalan dengan supir dan partnernya yang dua-duanya orang Inggris. Perjalanan semalaman dengan bis memang tidak terlalu nyaman. Yaah, resiko semacam sakit leher, punggung dan kaki bengkak sudah merupakan hal yang mesti diterima dengan lapang dada, wong murah kok. Hehe, kecuali dengan sleeper-bus seperti yang aku pakai waktu di Vietman(cek arsip blog perjalananku ke Vietnam, Saigon-Hoi An). Bis kami melewati Belgia juga, karena kami sempat berhenti di Brussels beberapa menit. Itu sekitar dini hari pukul 2 atau 3 pagi, dan masih saja ada beberapa anak muda yang terlihat baru pulang dari pesta. 
Paginya kami sampai di Amsterdam, tepatnya di  Zeeburg P&R coach park at Zuiderzeeweg. Pas turun bis, seperti yang aku duga, kita menggigil lantaran tentunya cuaca di Belanda lebih dingin daripada di Perancis. Untuk pertama kalinya aku merasa Paris masih jauh lebih hangat ketimbang di sudut manapun di kota yang baru aku pijak pagi itu. Kami yang sebenarnya masih bingung harus kemana setelah itu pun hanya mengikuti para penumpang lainnya yang menuju ke arah pemberhentian tram. Tram tersebut yang tarif perorangnya 2,70 euros akan mengantar kami ke central station dimana kami akan mengambil kereta lagi untuk menuju Rotterdam, yepp.. perjalanan kami belum usai.
Di sepanjang perjalanan dengan tram itu, aku mulai mencoba membiasakan diri dengan sistem kerja tram tersebut, termasuk membaca mesin penunjuk dimana pemberhentian berikutnya dan pada pemberhentian keberapa kami harus turun, apalagi dengan semuanya yang tertulis dalam bahasa Belanda.
Lalu sesampainya di stasiun kereta pusat, kami ke loket informasi untuk menanyakan kereta ke Rotterdam. Di Belanda yang termasuk menyenangkan adalah : hampir semua warga bisa berbahasa Inggris, ngga kayak negara tempat kami kuliah. (ups) Harga tiket Amsterdam-Rotterdam adalah 14,10 euros. Mahaaal! Kenapa mahal, padahal dekat sekali dan cuma satu jam dari Amsterdam, tapi salah satu temanku memberitahu kalau di Belanda itu transportasi yang mahal sekali. (-_-) Meranalah nasibku sebagai pengunjung, aku berkata dalam hati.
Kami mengambil kereta jam 7 lewat beberapa menit karena kami sampai di Amsterdam pagi itu pukul 6.40. Pagi itu kereta cukup lengang, jadi kami merasa lebih santai dan nyaman, walau sakit-sakit di leher masih terasa. Kami yang berangkat bersama-sama itu berjumlah sembilan orang dan sebagian membawa makanan ringan untuk mengganjal perut di pagi yang dingin itu. Aku yang sama sekali tidak memperhitungkan waktu pun hanya bisa ikutan mencomot cemilan milik teman-teman baruku tersebut(sebagian besar dari mereka memang baru kukenal pada malam keberangkatan). 
Ketika sampai di stasiun Rotterdam, kami dijemput oleh salah satu anggota panitia yang ditugaskan menjadi LO(liaison officer) kami. Dari sana ternyata kami tidak langsung diantar ke tempat kami akan menginap, namun langsung ke pusat olahraga Feijenoord. Disana ternyata sudah ada banyak anak-anak PPI dari berbagai kontingen yaitu Portugal, Italia, Jerman dan Belanda sendiri yang terdiri dari panitia dan peserta yang ikut kompetisi olahraga. Olahraga yang dilombakan tahun ini adalah futsal, pingpong, basket dan pada kompetisi tambahan yaitu kartu.
Pagi itu diawali dengan pembukaan acara lalu kompetisi demi kompetisi pun dimulai. Hal yang paling aku tunggu-tunggu itu adalah waktu makan, karena kami yang berpartisipasi sudah membayar konsumsi empat kali makan dengan harga 22 euros dan itu semua masakan Indonesia. Belanda merupakan surga di Eropa untuk masakan Indonesia. Malam tersebut kami sempat diajak oleh Vina, salah satu anggota panitia untuk melihat-lihat kota Rotterdam. Kami diajak berjalan di jembatan Erasmus dan dari sana terlihat sisi modern dari kota tersebut, bangunan-bangunan di Rotterdam bisa dikatakan baru dan sangat modern. Hal ini sempat dijelaskan oleh Vina bahwa dulunya setelah PD II, kota ini mengalami banyak kerusakan, makanya sekarang kebanyakan bangunan adalah bangunan baru. Hanya tersisa tiga atau empat bangunan sebagai landmark dari kota tersebut.
Setelah itu kami diajak makan(lagi karena waktu itu sudah hampir pukul 11 malam dan kami sudah lapar lagi). Kami singgah di restoran Nasi Goreng yang cukup terkenal disana. Sambil menunggu pesanan datang, kami main tebak-tebakan a la anak-anak kuliahan Indonesia yang membuat suasana ramai. Momen-momen seperti ini yang sangat aku suka, karena sebagian dari kami mendapat kuliah dan setiap harinya diharuskan berkomunikasi dengan bahasa Inggris maupun bahasa Perancis. Ketika bertemu dengan sesama mahasiswa Indonesia, aku sangat ingin bercanda dengan bahasa ibuku. Yahh, singkatnya setelah makan nasi goreng porsi jumbo yang harganya 9 euros itu(aku sampai bagi tiga dengan dua temanku), kami pulang dengan kereta karena ternyata penginapan kami diluar kota.
Setelah sampai di penginapan, aku langsung mencari sudut yang nyaman untuk tidur, karena apa? Penginapan itu berupa lapangan basket yang luas pisan dan para peserta dan pendukung dari seluruh kontingen serta sebagian besar panitia tidur disana. Agak diluar ekspektasi sih tapi yah... kita sebagai yang diundang dan sudah terlalu capek, mungkin tidak usah diperpanjang lagi keluhannya karena nantinya makin terasa capeknya. Hehe.
Keesokannya, pertandingan terus dilanjutkan sampai akhirnya kami harus berangkat pulang ke Paris. Secara pribadi, aku senang bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini karena bisa dapat teman baru, saling silaturahmi. Namun mungkin beberapa kekurangannya diharapkan bisa lebih diminimalisir di tahun-tahun kedepannya. 
(postingan ini akan dilengkapi di waktu berikutnya).

bsxxxARS

Kamis, 10 November 2011

Terjebak!!

Aku tau benar kalau Yoga bisa mengendarai motor dengan baik. Tetapi aku pun ingin mengendarai motor pagi itu.
“Chey... aku bawa motornya, ya ya ya?” aku langsung mengutarakan niatku ketika kami sedang di jalan untuk menjemput motor di tempat penyewaan. Sebenarnya itu bukan tempat penyewaan, melainkan rumah salah satu warga yang menyewakan salah satu motor mereka untuk memperoleh pendapatan tambahan dari turis lokal maupun internasional disini.
“Eeeh, ga usah. Aku aja. Kamu kan cewek, udah duduk nyantai di belakang.” Yoga terlihat tidak setuju dengan ideku.
Aku sebenarnya mengerti dengan sistem lady and gentlemen dimana para wanita dimanjakan dan diliburkan dari segala jenis aktivitas yang menghasilkan keringat. Kebanyakan wanita sangat suka dengan pria tipe gentlemen. Tetapi jika memang si wanita ingin melakukan aktivitas itu karena mereka benar-benar menyukainya, aku pikir tidak seharusnya mereka dilarang, karena nanti kesan yang ditimbulkan malah seperti pria yang menjadi diktator bagi wanita. Kalian bisa lihat kan bagaimana sistem lady and gentlemen ini bisa mengubah wanita menjadi manja dan pria menganut pribadi seorang diktator?
“Tenang Chey, aku dah biasa bawa motor juga kok.” Aku masih ingin mencoba meyakinkan kekasihku ini kalo ini memang yang aku mau.
“Udaaaah, aku aja yang bawa motor. Kamu keras kepala ya.” Yoga mulai rada kesal.
Adu mulut ini berlangsung hingga kami sampai di rumah penyewa motor dan akhirnya kami memutuskan kalau Yoga yang mengendarai di awal perjalanan dan aku di akhir perjalanan.

Walau angin kencang dan kami tidak bisa pergi ke tengah laut untuk snorkeling, tetapi matahari hari itu bersinar cerah sekali. Sesekali kami berhenti untuk melihat tempat warga menjemur rumput laut yang akan mereka jual ke Jepara. Yoga juga menyapa beberapa warga yang kami temui di perjalanan. Saat melewati beberapa petak sawah, aku sangat girang. Aku ingin sekali punya pengalaman menanam padi langsung di sawah dan sampai saat ini belum tercapai. Aku pikir, sedari kecil aku makan nasi yang merupakan makanan pokok negara Indonesia ini dan aku sangat ingin merasakan bagaimana menanam apa yang aku makan selama ini.
Aku pun meminta Yoga berhenti di tepi jalan dekat sawah tersebut. Tanaman padi terlihat sudah setinggi betis, mungkin sebentar lagi akan dipanen. Aku berjalan di pematang sawah dan meminta Yoga mengambil fotoku ditengah hamparan sawah. Itu kesenangan tersendiri buatku. Dalam hidup aku menemukan banyak hal-hal yang seringnya merupakan hal-hal sederhana yang ingin sekali kita lakukan hanya untuk membuat diri kita senang namun kita tidak terlalu banyak waktu untuk melakukannya. Menurutku melakukan hal-hal tersebut penting untuk diri kita. Aku pernah dengar yang orang-orang sebut dengan me-time alias waktu untuk diri kita sendiri. Walaupun kita sudah punya pasangan nantinya, penting untuk memiliki ruang untuk diri sendiri kadang-kadang. Membeli permen yang sudah lama kita inginkan karena mengingatkan kita dengan masa lalu, pergi ke restoran untuk memesan makanan yang jarang kita santap, pergi membaca ke tempat penyewaan komik mungkin beberapa hal sederhana yang bisa membuat kita senang.
Kembali ke sawah, setelah mengambil fotoku, kami meneruskan perjalanan. Untuk melakukan perjalanan dari pagi sampai sore itu kami menghabiskan sekitar 2 liter bensin. Tentu saja tidak ada tempat pengisian bahan bakar di pulau kecil itu. Yang ada hanya penjual bensin eceran. Permasalahan dari penjual bahan bakar eceran ini adalah dua; ada kemungkinan bahan bakar tersebut dicampur dengan bahan lain dan harganya yang pasti jauh lebih mahal. Kami membayar 9000 rupiah untuk satu liter. Sangat mahal karena biasanya harga satu liter hanya sekitar 4500 rupiah untuk motor bebek biasa. Yahh, gapapa juga. Jarang-jarang ini ke Karimunjawa.
Sorenya kami merencanakan ke Nirwana Resort di sisi lain pulau. Kami dengar itu seperti resort untuk para turis yang ingin menemukan pantai dengan suasana tenang. Untuk masuk harus membayar sekitar sebelas ribu rupiah. Setelah mengembalikan motor, kami jalan kaki menuju ke resort tersebut, karena kami sudah cukup menggunakan motor seharian. Aku sangat suka jalan kaki. Yoga tidak terlalu suka jalan kaki, tetapi aku sering memaksanya berjalan kaki dan akhirnya dia jadi suka juga. Aku pikir walau boncengan motor dengan pacar itu lebih romantis dan terasa intimnya daripada dengan mobil, tetapi jalan kaki bareng itu lebih terasa momennya. Di perjalanan, kami berpapasan dengan tiga perempuan bersepeda yang kami pikir adalah mahasiswa. Aku pun bertanya kepada mereka dimana mereka menyewa sepeda karena jika keesokan harinya kami tetap tidak bisa pergi ke tengah laut, kami mungkin bisa menyewa sepeda. Mereka ternyata memang mahasiswi ITB dan UNPAR yang berasal dari SMU yang sama. Aku dan Yoga juga menanyakan di guesthouse atau homestay mana mereka tinggal. Mereka bilang jika mereka tinggal di satu guesthouse tidak jauh dari homestay tempat aku dan Yoga tinggal dan harga perkamarnya lebih murah sepuluh ribu. Aku dan Yoga memikirkan hal yang sama ternyata. Kami berpikir jika memang kami harus tinggal lebih lama untuk menunggu cuaca bagus, kami harus mencari tempat menginap yang lebih murah. Kamipun mengucapkan terima kasih kepada ketiga mahasiswi tersebut dan melanjutkan jalan-jalan sore kami. Akhirnya ketika sampai di Nirwana Resort tersebut, tidak ada siapa-siapa yang menjaga di pos satpam. Yoga yang iseng lalu menarik tanganku untuk menerobos masuk ke dalam. Ini juga yang berbeda antara aku dan Yoga. Mungkin aku lebih fleksibel dalam bersosialisasi ketimbang Yoga. Tetapi untuk hal-hal tertentu, aku sangatlah kaku. Aku tidak terlalu merasa nyaman dengan pelanggaran-pelanggaran peraturan atau prosedur dalam banyak hal. Yoga di lain sisi, sangat menyukai menentang segala peraturan. Jika ada palang tanda dilarang masuk, dia malah ingin melihat ada apa di dalam. Aku tidak begitu mengerti mengapa dia begitu, mungkin kebanyakan pria juga begitu. Entah kenapa mereka begitu. Padahal banyak yang bilang jika pria lebih logis daripada wanita, namun kadang yang mereka lakukan tidak lebih logis daripada apa yang wanita pikirkan.
Aku yang sudah mulai capek hanya menurut saja. Yoga menarik tanganku sambil nyengir.
“Kita masuk aja. Nanti kalo ada satpamnya, bilang aja kita tadi dah cek dan tidak ada siapa-siapa padahal katanya buka sampai sore.” Dia benar-benar sudah memikirkan argumen yang bisa diajukan kalau sampai kami tertangkap oleh pihak keamanan resort tersebut.
“Huh, terserah kamu lah. Kamu yang tanggung yak.” Jawabku pasrah sambil menggulung sedikit demi sedikit benang layangan yang sempat terjuntai.
Resort itu ternyata tidak terlalu luas. Hanya daerah tertutup sepi yang terdapat satu villa besar dan pantai pribadi. Ketika kami tiba disana, tidak ada orang sama sekali terlihat dari pantai hanya ada satu perahu nelayan di tengah laut. Saat itu sudah pukul 5 sore. Sebentar lagi langit mulai gelap. Air laut juga sedang surut, maka aku hanya tinggal di tepi pantai. Yoga yang tetap berusaha berenang ke tengah laut. Aku pikir mungkin resort ini akan lebih indah jika ada lebih banyak orang. Namun aku tetap bisa menikmati suasana pantainya walau aku pikir jika mulai gelap akan sedikit membuat bulu kuduk berdiri.
Kami lalu pulang pukul enam sore. Malam itu hujan turun lebat sekali. Sebelumnya kami sempat makan nasi pecel(lagi) untuk menghemat sampai kami tahu sampai kapan kami akan tinggal di pulau ini.

5 Februari

Paginya hujan masih turun walau tidak selebat malam sebelumnya. Saat kami turun untuk mencari info jika kami bisa pergi ke laut hari ini, mbak Ika memberitahu kami bahwa tidak mungkin. Kapal-kapal tidak akan berani dan tidak diijinkan melawan ombak setinggi lebih dari 5 meter yang akan berlangsung selama beberapa hari kedepan. Aku dan Yoga terdiam. Kami terjebak di pulau ini untuk waktu yang belum bisa ditentukan.


Minggu, 30 Oktober 2011

Visit to Bordeaux

Located in the region of Aquitaine, Bordeaux is indeed a famous city in the country where it’s placed and also in the regard of world for its wine. Since it’s just 2 hours from La Rochelle, I decided to go there when I have some time and then I went there for the holiday of La Toussaint (it’s the holiday for the Dead People). As I’m a member of Couchsurfing, I met once in Bandung a couchsurfer from Bordeaux who visited Indonesia. Her name is Natacha, she was with her brother whose name is Nicolas. After the trip, Nicolas continued working in China and Natacha went back to Bordeaux but we still kept contact until my retour to France. At the moment, Natacha can’t host me but she said that she’d find someone who can and there’s this Franc. Franc is not a couchsurfer but he hosted already some foreigners at his apartment, and this time, me.
I had a plan to do the covoiturage (it’s a system in France of getting a ride cheaper by car. Normally worked for someone who has car and doesn’t wanna pay too expensive for gas and highway, so they offer some place for people with the same destination but to share for the gas and highway- see the site : www.covoiturage.fr). Another way to get to Bordeaux is by train. The price depends actually of a lot of things. For example the age of the passager, the date, the member card, etc. Me, I have what’s called carte 12-25. It’s a card which we pay about 50 euros if we’re 12-25 years old to have a big discount for train tickets. Next year I’m gonna be 25, but I was just lucky because lately it’s the 30th anniversary of SNCF(the company which runs the trains in France), so they created the limited edition of carte 12-30 which can be used until I get 30. So now I have this card and usually this card offers almost 50% of discount from the price normal, and of course until I get 30. J cool, huh?
I checked first the train ticket and to get to Bordeaux, I’ll only pay about 14 euros. But the covoiturage offers 10 euros. So I contacted two different person with whom I’ll get the ride to Bordeaux and to return to La Rochelle after. But the morning on the D-day, the covoitureuse sent me an sms and said that she had a problem that made her not be able to go to Bordeaux that day. I quite pissed me off but I still can catch the train and arrived in Bordeaux at the same hour I told to Natacha. Once I arrived in Bordeaux, it was 6 pm already(I took the train at 4 pm). I went to the toilet in Gare Saint Jean (that’s the name of the train station in Bordeaux). I tell you guys now, you have to pay 0,50 cent to enter the toilet. For some it’s nothing, but if you can find another one which is free, better go there. :D
To reach Franc’s place, I need to take tram. Yes, there are trams in Bordeaux and unlike the normal trams, these trams are run by the rail and not by the electric cables on them. Bordeaux is the first city which does this system, though seems they will change it soon due to the high price they paid for it. But it’s impressive..
I bought the tram ticket at the train station for 1,40 euros and took the C tram on les Aubiers direction then I stopped at the stop Paul Doumer. That’s the second time I met Natacha but now it’s in France. It’s so funny. We both laughed while remembering the night we met in Bandung. She took me to Franc’s apartment because he went running with some friends from the sport club. After dropping my backpack, we went out for some apéro(aperitif). Natacha took me for a walk along the sidewalk of Garonne, the river which flows along the city. Then she showed me miroir d’eau(the water mirror) which is located in front of Place de la Bourse, the majestic  buildings with the monuments of three Goddesses at the front. The last time, the Goddesse wore the pink ribbons, because October is the month for the International Awareness of Breast Cancer. So this Water Mirror is actually a place in a square form which is filled with a two inched of water that can reflect the lights of the Palace de la Bourse at night. I saw also the Pont de Pierre(Pierre Bridge) which connects rive gauche(the left side of Garonne where the city center of Bordeaux is located) and rive droite (the right side of Garonne which is called Le quartier de la Bastide, the industrial area of Bordeaux but most of people don’t consider this area as a part of Bordeaux).
Natacha took me walking on the old street of Bordeaux where I can see a lot of restaurant, and including the asiatic ones. She told me this japanese resto called Fufu which is very famous and always crowded. We took apéro in the bar next to the Théâtre called bar The Regent. We ordered Lillet, a white wine for aperitif from Bordeaux (for the complete info, see http://en.wikipedia.org/wiki/Lillet ). It’s about 8 euros a glass.
Deep in a curiosity, I said to Natacha that I wanna taste Fufu. Then we went there, bought it and went home with. I met Franc finally. He’s a nice guy, open-minded and always nice to talk with. We talk about mostly everything that we can share like computer, culture or traveling. That night I posted in CS group of Bordeaux for a coffee the day after. In the morning I got a response from a Cser and then we changed number. I sent her message and we met at Quinconces where there were a lot of carnival rides such as ferris wheel, merry-go-round and jetcoaster. But then again I got a little bit lost until we met in front of La Place de Bourse again. This girl named Farah, she was just awesome. She took me sightseeing the city and explain the brief history at the same time. Bordeaux was once fenced by the great walls and there were some big gates to access the city center. One of them is called Porte de Cailhau. The walls are already crashed but they still keep the gates for the history. There’s a street called Rue Sainte Catherine(St Catherine street) which is said to be the longest shopkeeper street in Europe with approximately 15 km. At the end of this street, there’s this La Place de la Victoire. We can find  here a monument dedicated for wine, only in Bordeaux and in front of this monument, there’s a statue of a big turtle and a little one aside. The turtle is also the symbole of wine itself. Like the grapes he bites in his mouth just like the grapes on Dyosnisos’s(the God of grapes in Greeks Mythology) head. Farah also showed me the traditional market at Place Saint Michel where found the very high tour which people can see from far. We went also to the famous Cathédrale Saint André, located at the Place of Pabelan. After that, we passed in front of Hôtel de Ville(if translated directly will be ‘Hotel of the City’) which is in fact the City Hall.
At the end of the day, I continue the sightseeing by myself because Farah had something to do. While waiting for Natacha to dine together, I went to see the Grosse Cloche(the Big Bell) which was created to warn if there’s a fire in the city.
The night we went to the restaurant at Place de la Victoire, called Auguste or usually called Chez Auguste. It’s very famous of its burger, but that night I ordered Steak tartar. I met Simon, a french guy, a couchsurfer whom I met when I did my trip to Bangkok last July. It was so funny that we met again here, in France. Then Natacha introduced me also Fabienne and Manu. It was really fun that night. I left this city the day after. I did my covoiturage with a french woman named Magalie. She was with her two daughters, and there’s another covoitureuse name Iba who’s originally from Lebanon(actually I don’t know exactly the spelling but that’s how it’s pronounced). We had a really good conversation and I’m looking forward to meet them again. I just had a great trip to Bordeaux.

bsxxxARS