Jika
diceritakan dari awal kenapa aku bisa sampai berpartisipasi di acara Temu Eropa
2012 di Rotterdam, Belanda ini bisa sangat panjang. Singkatnya, aku adalah
salah satu mahasiswa program master di Perancis yang sedang menjalani magang di
Kedubes Indonesia di Paris. Satu pagi, seingatku itu hari kamis, salah satu
temanku yang juga magang di KBRI ngasitau kalau anak-anak PPI(Perhimpunan
Pelajar Indonesia) akan ikut berpartisipasi di acara Temu Eropa yang tahun ini
diadakan di Rotterdam, Belanda. Acaranya tersebut yang berlangsung selama dua
hari diadakan untuk mengundang perwakilan PPI dari Eropa untuk ikut dalam
kompetisi olahraga demi menjalin silaturahmi antara mahasiswa Indonesia di
Eropa. Acara ini dicanangkan oleh PPI Belanda dan berlangsung tiap tahunnya di
kota yang berbeda di Belanda.
Beberapa
bulan sebelumnya aku sudah sempat mendengar tentang acara ini, tapi karena aku
pikir tiket untuk menuju kesananya akan mahal, aku mengurungkan niatku. Sampai
pada ketika teman magangku itu berkata : "Kita naik Megabus, PP
Paris-Amsterdam 26 euros". Aku langsung tanpa pikir panjang mengeluarkan
dompet dan CB(carte bancaire a.k.a. kartu debet) dan berkata
"Ikuuuut!". Megabus yang akan kami gunakan untuk menuju dan pulang
dari Rotterdam itu merupakan perusahaan bis Inggris dan jadwal keberangkatan
yang ditawarkan sebagian besar pada malam hari sehingga kita dapat menghemat
waktu dan uang untuk hotel satu malam(maklum lah ya.. mahasiswa, dan semua
orang Perancis tau bahwa setiap orang yang bilang kalau dia mahasiswa pasti
sudah pasti miskin. *true story*).
Bref(singkatnya),
kami memesan bis Megabus dengan keberangkatan Paris-Amsterdam pada hari Jumat
malam tanggal 4 Mei. Terminal bisnya itu letaknya di Porte Maillot Coach Park,
seberangnya Hotel Concord Lafayette yang segede gaban. Kenapa? karena untuk menemukan
terminal itu, kita sampai harus mengelilingi hotel tersebut yang sebenarnya
satu-satunya penghalang buat ngeliat itu terminal. Bis kami berangkat jam 11
dan RDV di metro Porte Maillot line 1 jam 10 supaya tidak mepet-mepet karena
kami belum tau dimana terminalnya. (itu juga masih ada yang telat).
Akhirnya
kami ketemu terminal dan bisnya mulai jalan dengan supir dan partnernya yang
dua-duanya orang Inggris. Perjalanan semalaman dengan bis memang tidak terlalu
nyaman. Yaah, resiko semacam sakit leher, punggung dan kaki bengkak sudah
merupakan hal yang mesti diterima dengan lapang dada, wong murah kok. Hehe,
kecuali dengan sleeper-bus seperti yang aku pakai waktu di Vietman(cek arsip
blog perjalananku ke Vietnam, Saigon-Hoi An). Bis kami melewati Belgia juga,
karena kami sempat berhenti di Brussels beberapa menit. Itu sekitar dini hari
pukul 2 atau 3 pagi, dan masih saja ada beberapa anak muda yang terlihat baru
pulang dari pesta.
Paginya kami sampai di Amsterdam,
tepatnya di Zeeburg P&R coach park at Zuiderzeeweg. Pas
turun bis, seperti yang aku duga, kita menggigil lantaran tentunya cuaca di
Belanda lebih dingin daripada di Perancis. Untuk pertama kalinya aku merasa
Paris masih jauh lebih hangat ketimbang di sudut manapun di kota yang baru aku
pijak pagi itu. Kami yang sebenarnya masih bingung harus kemana setelah itu pun
hanya mengikuti para penumpang lainnya yang menuju ke arah pemberhentian tram.
Tram tersebut yang tarif perorangnya 2,70 euros akan mengantar kami ke central
station dimana kami akan mengambil kereta lagi untuk menuju Rotterdam, yepp..
perjalanan kami belum usai.
Di sepanjang perjalanan dengan
tram itu, aku mulai mencoba membiasakan diri dengan sistem kerja tram tersebut,
termasuk membaca mesin penunjuk dimana pemberhentian berikutnya dan pada
pemberhentian keberapa kami harus turun, apalagi dengan semuanya yang tertulis
dalam bahasa Belanda.
Lalu sesampainya di stasiun
kereta pusat, kami ke loket informasi untuk menanyakan kereta ke Rotterdam. Di
Belanda yang termasuk menyenangkan adalah : hampir semua warga bisa berbahasa
Inggris, ngga kayak negara tempat kami kuliah. (ups) Harga tiket
Amsterdam-Rotterdam adalah 14,10 euros. Mahaaal! Kenapa mahal, padahal dekat
sekali dan cuma satu jam dari Amsterdam, tapi salah satu temanku memberitahu
kalau di Belanda itu transportasi yang mahal sekali. (-_-) Meranalah nasibku sebagai
pengunjung, aku berkata dalam hati.
Kami mengambil kereta jam 7 lewat
beberapa menit karena kami sampai di Amsterdam pagi itu pukul 6.40. Pagi itu kereta
cukup lengang, jadi kami merasa lebih santai dan nyaman, walau sakit-sakit di
leher masih terasa. Kami yang berangkat bersama-sama itu berjumlah sembilan
orang dan sebagian membawa makanan ringan untuk mengganjal perut di pagi yang
dingin itu. Aku yang sama sekali tidak memperhitungkan waktu pun hanya bisa
ikutan mencomot cemilan milik teman-teman baruku tersebut(sebagian besar dari
mereka memang baru kukenal pada malam keberangkatan).
Ketika sampai di stasiun
Rotterdam, kami dijemput oleh salah satu anggota panitia yang ditugaskan
menjadi LO(liaison officer) kami. Dari sana ternyata kami tidak langsung
diantar ke tempat kami akan menginap, namun langsung ke pusat olahraga
Feijenoord. Disana ternyata sudah ada banyak anak-anak PPI dari berbagai kontingen
yaitu Portugal, Italia, Jerman dan Belanda sendiri yang terdiri dari panitia
dan peserta yang ikut kompetisi olahraga. Olahraga yang dilombakan tahun ini
adalah futsal, pingpong, basket dan pada kompetisi tambahan yaitu kartu.
Pagi itu diawali dengan pembukaan
acara lalu kompetisi demi kompetisi pun dimulai. Hal yang paling aku
tunggu-tunggu itu adalah waktu makan, karena kami yang berpartisipasi sudah
membayar konsumsi empat kali makan dengan harga 22 euros dan itu semua masakan
Indonesia. Belanda merupakan surga di Eropa untuk masakan Indonesia. Malam
tersebut kami sempat diajak oleh Vina, salah satu anggota panitia untuk
melihat-lihat kota Rotterdam. Kami diajak berjalan di jembatan Erasmus dan dari
sana terlihat sisi modern dari kota tersebut, bangunan-bangunan di Rotterdam
bisa dikatakan baru dan sangat modern. Hal ini sempat dijelaskan oleh Vina
bahwa dulunya setelah PD II, kota ini mengalami banyak kerusakan, makanya
sekarang kebanyakan bangunan adalah bangunan baru. Hanya tersisa tiga atau
empat bangunan sebagai landmark dari kota tersebut.
Setelah itu kami diajak
makan(lagi karena waktu itu sudah hampir pukul 11 malam dan kami sudah lapar
lagi). Kami singgah di restoran Nasi Goreng yang cukup terkenal disana. Sambil
menunggu pesanan datang, kami main tebak-tebakan a la anak-anak kuliahan
Indonesia yang membuat suasana ramai. Momen-momen seperti ini yang sangat aku
suka, karena sebagian dari kami mendapat kuliah dan setiap harinya diharuskan
berkomunikasi dengan bahasa Inggris maupun bahasa Perancis. Ketika bertemu
dengan sesama mahasiswa Indonesia, aku sangat ingin bercanda dengan bahasa
ibuku. Yahh, singkatnya setelah makan nasi goreng porsi jumbo yang harganya 9
euros itu(aku sampai bagi tiga dengan dua temanku), kami pulang dengan kereta
karena ternyata penginapan kami diluar kota.
Setelah sampai di penginapan, aku
langsung mencari sudut yang nyaman untuk tidur, karena apa? Penginapan itu
berupa lapangan basket yang luas pisan dan para peserta dan pendukung dari
seluruh kontingen serta sebagian besar panitia tidur disana. Agak diluar
ekspektasi sih tapi yah... kita sebagai yang diundang dan sudah terlalu capek,
mungkin tidak usah diperpanjang lagi keluhannya karena nantinya makin terasa
capeknya. Hehe.
Keesokannya, pertandingan terus
dilanjutkan sampai akhirnya kami harus berangkat pulang ke Paris. Secara
pribadi, aku senang bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini karena bisa dapat
teman baru, saling silaturahmi. Namun mungkin beberapa kekurangannya diharapkan
bisa lebih diminimalisir di tahun-tahun kedepannya.
(postingan ini akan dilengkapi di
waktu berikutnya).
bsxxxARS